• Dosen dan Mahasiswa

Informasi

Info pembelian atau langganan

Info pembelian atau langganan

Harga per edisi: Rp. 50.000,-

Langganan (2 edisi per tahun):
Individu: Rp. 70.000,- Perpustakaan: Rp. 100.000,-

Syarat Penulisan Artikel Jurnal Verbum Christi

Syarat Penulisan Artikel Jurnal Verbum Christi

  1. Berfokus pada studi-studi dalam teologi Reformed antara lain studi biblika, sistematika, historika, apologetika, filsafat, etika, praktika, dan penginjilan.
  2. Artikel yang dikirimkan adalah karya asli pengarang, baik satu orang maupun tim yang maksimum terdiri dari 2 orang, dan belum pernah dimuat oleh media atau penerbitan resmi mana pun, dan tidak dikirimkan ke jurnal lain.
  3. Artikel ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baku.
  4. Batas waktu akhir penerimaan artikel setiap tahun adalah 1 Maret dan 1 September.
  5. Penulisan judul artikel:
    1. Ditulisheadline style, tiap kata dengan huruf kapital
    2. Dicetak tebal.
    3. Ditempatkan pada posisi tengah (centered).
  6. Penulisan nama pengarang dan data pengarang:
    1. Nama pengarang dicetak tebal, tiap kata dimulai dengan huruf kapital.
    2. Di bawah nama pengarang, dicantumkan nama institusi tempat pengarang berkarya, dicetak miring.
    3. Nama pengarang dan institusinya ditempatkan pada posisi tengah (centered).
    4. Pengarang menyertakan satu lembar biodata yang berisi nama lengkap, nomor telepon/ handphone, curriculum
  7. Abstrak dan Kata Kunci:
    1. Ditempatkan di bawah nama penulis dan institusinya.
    2. Panjang abstrak maksimal 150 kata.
    3. Ditulis dengan huruf Palatino, ukuran 10 poin, dan 2 spasi.
    4. Abstrak ditulis dengan huruf tegak, sedangkan kata kunci ditulis dengan huruf miring (italic).
    5. Penulis perlu menuliskan 4-10 kata kunci dari artikel tersebut.
    6. Abstrak dan Kata Kunci ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
  8. Penulisan sub-judul:
    1. Sub-judul tingkat pertama ditulis tebal, ditempatkan rata kiri, tanpa penomoran, dan tanpa tanda titik.
    2. Sub-judul tingkat kedua ditulis miring, ditempatkan rata kiri, tanpa penomoran, dan tanpa tanda titik.
    3. Penulisan sub judul maksimum pada tingkat kedua.
  9. Penulisan teks artikel (body text):
    1. Panjang teks artikel antara 5000-8000 kata, tanpamenghitung footnote.
    2. Teks diketik dengan huruf Palatino, ukuran 11 poin, dan 2 spasi, rata kiri-kanan.
    3. Kutipan langsung yang tidak melebihi 3 baris teks, dicantumkan di dalam teks. Kutipan langsung yang melebihi 3 baris teks dicantumkan sebagai kutipan blok. Kutipan blok diketik tegak, dengan huruf Palatino 10 poin, 1 spasi, dan diindentasi seluruhnya satu tab, rata kiri, batas tepi kanan dari kutipan blok adalah sama dengan tepi kanan teks artikel. Kutipan blok tidak perlu memakai tanda petik pembuka maupun penutup.
    4. Istilah asing (selain bahasa artikel) diketik miring.
    5. Kutipan dan istilah asing selain dari bahasa Yunani, Ibrani, Inggris dan Latin (misalnya: Perancis, Jerman, Belanda) harus diberikan terjemahannya dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia.
    6. Istilah-istilah teknis, istilah khas teologi/ filsafat dan istilah-istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau merupakan istilah baku dalam bahasa Inggris, tidak perlu diterjemahkan.
    7. Paragraf pertama dan tiap paragraf baru berikutnya diindentasi satu tab mengikuti tab default komputer.
  10. Penulisan catatan kaki harus mengikuti standar Turabian:
    1. Lihat contoh dari website:http://www.press.uchicago.edu/books/turabian/turabihtml
    2. Untuk pemunculan pertama kali, harus ditulis lengkap.
    3. Ukuran huruf catatan kaki, 10 poin, mengikuti default
  11. Penulisan nama kitab dalam Alkitab:
    1. Semua nama kitab yang merupakan bagian dari kalimat dalam teks artikel, baik yang ditulis di dalam tanda kurung maupun tidak, ditulis lengkap. Misalnya: Yohanes 3:16; Filipi 3:1.
    2. Penulisan nama kitab yang dicantumkan di dalam catatan kaki, ditulis dengan menggunakan standar singkatan Lembaga Alkitab Indonesia. Misalnya, (Mrk. 3:1) bukan (Mar. 3:1); (Flp. 1:1) bukan (Fil. 1:1); (Rm. 11:36) bukan (Rom 11:36).
    3. Nama-nama kitab dalam alkitab bahasa Inggris ditulis sesuai dengan pola (a) dan (b) diatas.
  12. Pengarang tidak perlu mencantumkan Daftar Pustaka. Data pustaka yang dipakai harus tertulis jelas di dalam catatan kaki. 

Verbum Christi 4.1

  • Volume 4, No. 1
  • TEOLOGI DOA MARTIN LUTHER

    ABSTRAK: Teologi doa Luther merupakan salah satu teologi doa Kristen yang penting. Luther dalam teologi doanya menunjukkan hubungan yang erat antara teologi dan doa. Ia juga menerapkan pengertian-pengertian teologi doanya. Kehidupan dan pelayanannya memperlihatkan doa sebagai sarana utama kehendak Allah dikerjakan dalam hidupnya. Luther adalah seorang yang berdoa. Ia menyatakan alasan mengapa doa begitu penting dalam hidupnya dalam tulisan-tulisan teologisnya. Dengan melihat makna doa, motivasi doa, sikap doa, sasaran doa, cara berdoa, syarat-syarat doa, doa dan Allah Tritunggal, doa dan Anfechtungen, serta manfaat doa maka teologi doa Luther dapat disarikan dan disusun menjadi suatu teologi doa yang alkitabiah. KATA KUNCI: Luther, doa, teologi, Anfechtungen.

    ABSTRACT: Luther’s theology of prayer is one of the important Christian theologies of prayer. In his theology, Luther showed a close relationship between theology and prayer. He put into practice the meanings of his theology of prayer. His living and ministry exhibited prayer as primary means through which the will of God was embodied in his life. Luther was a man of prayer. He declared the reason why prayer was so important in his life in his theological writings. Through the meaning of prayer, the motivation of prayer, the manner or attitude of prayer, the way of prayer, the requirements of prayer, prayer and The Trinity, prayer and Anfechtungen, as well the benefit of prayer, as of Luther theology of prayer can be summarized and arranged to be a biblical theology of prayer. KEYWORDS: Luther, prayer, theology, Anfechtungen.

  • KONTINUITAS HUKUM TAURAT DALAM SURAT GALATIA MENURUT PEMIKIRAN DOUGLAS J. MOO

    ABSTRAK: Dalam perdebatan “Paulus dan hukum Taurat” di kalangan para ahli, Douglas J. Moo mempertahankan posisi tradisi Reformed. Moo di dalam tafsiran surat Galatia menyatakan bahwa sekalipun hukum Taurat tidak memiliki otoritas langsung, tetapi tetap menjadi sumber secara tidak langsung untuk umat Allah dalam Perjanjian Baru. Dalam tulisan ini akan dibuktikan bagaimana Moo dalam surat Galatia menunjukkan pemikiran ini, yang tentu memberi manfaat bagi orang Kristen dalam mengerti kontinuitas hukum Taurat dalam salah satu surat Paulus. KATA-KATA KUNCI: Kontinuitas Taurat, Surat Galatia, Injil dan Taurat, otoritas Taurat, Paulus dan Taurat.

    ABSTRACT: The debate among the scholars on “Paul and the Law”, Douglas J. Moo holds to the position of Reformed tradition. Moo in the commentary of Galatians claims that the Law although has no direct authority, yet it remains an indirect source for God’s people in the New Testament. This paper will show how Moo articulate his thought in the commentary of Galatians, which in turn benefits Christians in understanding the continuity of the Law in one of Paul’s epistles. KEYWORDS: Continuity of Torah, Epistle of Galatians, Gospel and the Law, Authority of the Law, Paul and the Law.

  • PEMAHAMAN KIERKEGAARD TENTANG ‘DIRI’, DALAM BUKU THE SICKNESS UNTO DEATH

    ABSTRAK: Buku The Sickness Unto Death menjadi salah satu kunci memahami konsep diri menurut Kierkeegard. Di buku ini, Anti-Climacus, nama samaran Kierkegaard, digambarkan sebagai figur Kristen yang memiliki level lebih tinggi dari Kierkegaard sendiri. Diri barulah dapat terwujud melalui sintesis dari berbagai relasi, dan saat berada dalam keseimbangan diantara kutub-kutub yang bertegangan antara tak terbatas dan terbatas, mewaktu dan kekal, serta kebebasan dan keharusan. Pewujudan diri yang ideal juga memerlukan model ideal yang hendak dicapai, yaitu pribadi Yesus Kristus yang bersifat universal sekaligus partikular. KATA-KATA KUNCI: Eksistensial, kebebasan, pengenalan diri, dialektika diri, relasi.

    ABSTRACT: The Sickness Unto Death is a book to understand the concept of self according to Kierkeegard. In this book, Anti-Climacus, a pseudonym of Kierkegaard is presented as a Christian figure in an extraordinary high level, even to Kierkegaard himself. Self can only be actualized through synthesis from various relations, and when it is in equilibrium between opposing poles of infinite and finite, temporal and eternal, and freedom and necessity. The actualization of the ideal self requires an ideal model as a goal, that is in Jesus Christ, who is universal and particular at the same time. KEYWORDS: Existential, freedom, knowing self, dialectical self, relation.

  • TENTANG KERJA DAN PANGGILAN

    ABSTRAK: Dalam artikel ini penulis melakukan kajian pada aspek-aspek teologis, filosofis dan sosiologis dari pekerjaan untuk memahaminya secara Kristiani. Analisis ini akan dipakai untuk menyusun suatu usulan etika kerja Kristen yang dapat diterapkan pada zaman ini. Ada tiga sumber yang akan dipertimbangkan dalam mengulas etika kerja Kristen tersebut: alkitab, tradisi, dan situasi hidup modern. KATA-KATA KUNCI: Kerja, panggilan, makna, eskatologi, ontologi, epistemologi, eklesiologi, Augustinus, Luther, Calvin, Volf, Pascal, Fermat.

    ABSTRACT: In this article, the author examining theological, philosophical and sociological aspects of work to understand it in Christian perspective. This analysis will be used to construct a suggestion of Christian work ethic that can be applied for this age. There are three sources that are considered in discussing the Christian work ethic: the bible, tradition and modern life situation. KEYWORDS: Work, calling, meaning, eschatology, ontology, epistemology, ecclesiology, Augustine, Luther, Calvin, Volf, Pascal, Fermat.

Verbum Christi 3.2

  • Volume 3, No. 2
  • PERTARUHAN PENTING: HERMENEUTIKA INSIDER MOVEMENT DAN INJIL

    ABSTRAK: Artikel ini membahas tentang Gerakan Dalam/ Insider movement. Apakah interpretasi dan penerapan Insider Movement atas metode apostolik dan agama abad pertama merupakan suatu penemuan kembali (rediscovery) yang limpah atau suatu pendefinisian ulang (redefinition) yang radikal? Dengan memanfaatkan kategori-kategori McGavran, para pendukung IM telah mengembangkan lingkup identitas sosio-agama hingga mencapai sebuah tempat penting dan kondisi fungsional yang statis, sehingga mengikuti Yesus berarti menempatkan Dia di dalam batasan-batasan agama yang sudah ada. Dengan metode IM seperti ini, pertanyaan budaya mengenai bagaimana misi dapat menggantikan pertanyaan untuk siapakah misi tersebut dilakukan. Apakah injil IM merupakan injil yang sejati? KATA KUNCI: Gerakan Dalam, misi, kebudayaan, hermeneutika, injil.

  • THE CONTRIBUTION OF REFORMED THEOLOGY TO HERMENEUTICS

    ABSTRAK: Hermeneutika Modern berakar pada realita-realita pembaca dan kebudayaannya. Tetapi bagaimana jika para pembaca akan menjadi penafsir masing-masing? Otoritas macam apa yang akan ditinggalkan pada Alkitab sebagai Firman Allah yang kudus? Konsep Kalvinis tentang autopistia, kitab suci yang memiliki keyakinan pada dirinya, merupakan suatu upaya untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan terang internal, antara objektivitas dan subjektivitas. Hal ini mengikat alkitab kepada Allah dan Roh Kudus, namun juga kepada para pembaca dan konteks mereka. Dengan autopistia sebagai latar belakang, artikel ini berkontribusi dengan kerangka hermenutika yang baru beserta tiga posisinya: (1) Teks tersebut sebagai Viva Vox Dei, (2) para pembaca, dan (3) komunitas para pembaca di zaman historis lampau dan sekarang, yaitu gereja.

  • THE PARADISE IN WILDERNESS: AN EXEGETICAL APPROACH ON MARK 1:9-13 AND ITS SIGNIFICANCE IN CONTEMPORARY SOCIETIES

    ABSTRAK: Adam membawa umat manusia dari Firdaus ke padang gurun oleh ketidaktaatannya kepada Tuhan. Sejak saat itu, umat manusia mengalami penderitaan yang tidak terhitung di dalam dunia dan mengalami hukuman kekal karena dosa. Tetapi Kristus sebagai Adam kedua membawa diri-Nya dari Firdaus ke padang gurun untuk membawa umat-Nya dari padang gurun ke Firdaus oleh ketaatan-Nya yang sempurna. Sejak itu, umat-Nya bukan hanya memiliki kepastian akan keselamatan yang kekal tetapi juga memiliki kemungkinan untuk mengalami firdaus dalam padang gurun bersama dengan-Nya. Bahkan, dengan kuasa dari Roh Kudus, umat-Nya akan menggenapi panggilan mereka sebagai murid dengan menyaksikan firdaus dalam komunitas kontemporer padang gurun untuk membawa mereka kepada Kristus. Pendekatan eksegesis pada Markus 1:9-13 akan memberikan dasar yang kuat untuk mendiskusikan sifat dari padang gurun dan tantangannya, diikuti dengan motif firdaus yang khusus bagi Markus. Signifikansi dari pembahasan tersebut akan memberikan terang untuk menjelaskan mengapa banyak nabi dan rasul mengalami sukacita sejati ketika berhadapan dengan penderitaan yang berat dan penganiayaan. Dan tentu saja, dari pembahasan tersebut umat-Nya baik saat ini maupun yang akan datang akan mengalami atau lebih lagi untuk membawa firdaus kedalam padang gurun dengan anugerah dari Tuhan.

  • INTERPRETASI ATAS RELASI KOVENANTAL PRA KEJATUHAN: SEBUAH PENGEMBANGAN PEMIKIRAN HERMAN HOEKSEMA

    ABSTRAK: Perdebatan dalam Teologi Kovenan seakan tidak ada habisnya. Meski kovenan di Eden pada umumnya diterima dalam aras Reformed, namun ada pula yang menolaknya, sebutlah John Murray dan Anthony Hoekema. Salah satu alasan penolakan terhadap Kovenan Kerja disebabkan absennya anugerah dalam konsep kovenan sebagai kontrak antara dua belah pihak. Tulisan ini akan menelusuri secara singkat ragam interpretasi mengenai relasi pra kejatuhan, yakni relasi alamiah-anugerah serta natur perjanjian pertama di Eden. Dari tinjauan kesejarahan tersebut terlihat bahwa anugerah terkait dengan relasi kovenantal yang independen dari relasi alamiah. Penulis akan mengargumentasikan bahwa relasi kovenantal bersifat universal dan inheren dalam karya penciptaan, oleh karenanya mencakup relasi alamiah, sehingga anugerah merupakan landasan bagi relasi Allah dengan Adam di Eden. Selanjutnya akan disajikan bahwa landasan anugerah tersebut tertuang dalam bentuk formal Kovenan Penciptaan. Dengan meminjam pemikiran Herman Hoeksema akan disimpulkan bahwa tujuan perjanjian di Eden adalah persekutuan dengan Allah melalui karya penatalayanan ciptaan.

  • THE SIGNIFICANCE OF THE VAN TILLIAN METHOD IN APOLOGETICS WITH AN EXAMPLE OF ARGUMENT TO MUSLIMS

    ABSTRAK: Apologetika Presupossional telah menjadi alternatif utama (atau pesaing?) bagi apologetika klassik yang memakai bukti-bukti. Sekalipun munculnya apologetika ini terjadi di tradisi Reformed, khususnya melalui upaya Cornelius Van Til dan Gordon Clark, tapi pentingnya melampaui batasan tradisi Reformed. Bahkan apologet injili kontemporer, Ravi Zacharias, juga menggunakan apologetika presuposisional yang dia kombinasikan dengan metode pembuktian. Fakta ini sulit dibantah jika kita membaca karangannya “Yesus diantara para allah.” Maka, perhatian utama dari artikel ini adalah mengenai pentingnya apologetika presuposisinal secara khusus dalam bentuk Van Tillian. Setelah mengemukakan eksposisi akan metode ini, kita akan melihat aplikasinya terhadap konsep Muslim akan Allah dan ide mengenai keseragaman.

Verbum Christi 3.1

  • Volume 3, No. 1
  • TINJAUAN KRITIS PANDANGAN HARFIAH HARI PENCIPTAAN

    ABSTRAK: Pemahaman terhadap hari penciptaan di dalam Kejadian 1:1-2:3 telah menuai begitu banyak perdebatan dan argumentasi. Oleh karena itu, studi narasi penciptaan di dalam Kejadian 1:1-2:3 menjadi hal yang sangat penting untuk dapat melihat kembali kekonsistenan penafsiran harfiah terhadap narasi penciptaan di dalam Alkitab. Penafsiran harfiah yang dimaksud adalah penafsiran yang melihat bahwa penciptaan benar-benar terjadi dalam durasi waktu 6 hari normal dengan mengikuti urutan kronologis yang dinyatakan dalam narasi penciptaan mulai dari hari pertama hingga hari keenam, dimana pada hari ketujuh Tuhan memberkati dan menguduskannya, dan yang menjadikan hari ketujuh memiliki aspek harfiah dan tidak harfiah. Selain itu, dengan menyadari banyaknya tantangan dan kritik terhadap penafsiran harfiah, baik dari pendekatan penafsiran tidak harfiah maupun pendekatan ilmu pengetahuan modern, maka pembahasan akan tantangan dan kritik tersebut menjadi sangat penting agar pembahasan penafsiran harfiah menjadi kian limpah.

  • THE CONCEPT OF FAITH IN THE LETTER OF JAMES: A DISCOURSE ANALYSIS ON JAMES 1-2I

    ABSTRAK: Ajaran Yakobus mengenai iman telah diabaikan selama bertahun-tahun. Karena konsep iman dalam Perjanjian Baru dibaca terutama dalam kaca mata teologi Paulus, banyak ahli yang kemudian mengabaikan ajaran Yakobus mengenai iman, yang memiliki penekanan berbeda dari Paulus. Banyak ahli dalam bidang studi biblika dan dogmatika telah mencoba menyelaraskan ketegangan antara ajaran Paulus dan Yakobus tentang iman. Sementara pendekatan historis yang digunakan untuk menyelesaikan isu ini telah membawa studi Perjanjian Baru kepada sebuah debat yang tidak kunjung selesai, tulisan ini hendak menunjukkan bahwa surat Yakobus tidak dikirimkan untuk mengangani masalah-masalah yang muncul karena Paulus. Essay ini menggunakan metode discourse analysis untuk memahami bagaimana konsep iman dalam Yakobus 1 dan 2 seharusnya dipahami. Tulisan ini menemukan bahwa Yakobus mengirimkan suratnya untuk menggembalakan komunitas orang percaya dan untuk membantu mereka memahami penderitaan dalam hidup mereka. Yakobus menekankan bahwa iman bukanlah sekedar pengakuan lidah tetapi sebuah komitmen untuk hidup sesuai dengan kebenaran iman yang seseorang perang dan percayai.

  • THE SIGNIFICANCE OF THE PROPOSITIONAL TRUTHS IN CHRISTIAN FAITH

    ABSTRAK: Filsafat postmodern telah memberikan dampak yang serius terhadap cara pandang pemikir-pemikir Kristen terhadap kebenaran. Beberapa dasawarsa yang lalu, teolog-teolog Kristen telah memformulasikan dan mempertahankan teologi Kristen sebagai sistem kebenaran propositional. Namun di beberapa dekade belakangan, kebenaran – sebagai proposisi yang seharusnya menjadi kebenaran yang kekal – telah ditolak oleh beberapa pemikir seperti Leslie Newbigin dan Stanley Grenz. Menurut mereka salah satu alasan utama menolak proposisi dalam diskursus teologi dikarenakan ini merupakan hasil masa pencerahan dan karenanya tidak dapat diaplikasikan di konteks postmodern. Tetapi, pandangan ini memiliki problem yang signifikan dan karenanya tujuan dari artikel ini adalah untuk mendalami permasalahan yang ada dan mempertahankan pentingnya kebenaran-kebenaran proposisi di dalam iman Kristen.

  • JONATHAN EDWARDS’ EMPHASIS ON RELIGIOUS AFFECTIONS AS VIA MEDIA TO EXTREME RESPONSES OF REVIVAL

    ABSTRAK: Pekerjaan Tuhan untuk mereformasi gereja-Nya seringkali diawali dengan kebangunan rohani. Namun banyak kebangunan rohani mengalami nasib seperti the Great Awakening di koloni New England di abad kedelapan-belas yang terpecah menjadi dua kubu: yang fanatik mendukung atau yang menolak. The Great Awakening menjadi pertarungan untuk menjawab satu pertanyaan kunci: apakah The Great Awakening memang merupakan pekerjaan Roh Kudus? Apakah yang dimaksud dengan kebangunan sejati menurut teologi Reformed? Tokoh yang paling cocok menjawab pertanyaan ini adalah Jonathan Edwards. Di tengah-tengah kontroversi tersebut, Edwards mempertahankan posisi tengah yaitu meyakinkan bahwa the Great Awakening merupakan pekerjaan Tuhan namun sekaligus bersikap kritis terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Karya Edwards Treatise of Religious Affection akan dikaitkan dengan diskusinya tentang sentralitas afeksi dalam agama, natur dari pengalaman dan juga jaminan keselamatan.

  • RELASI PERAYAAN SABAT DENGAN KESUCIAN HIDUP MENURUT JOHN CALVIN

    ABSTRAK: Ada suatu relasi antara perayaan Sabat dan kesucian hidup Kristen dalam pemikiran Calvin. Meskipun Calvin belum mengungkapkan relasi ini secara jelas, baik di dalam tafsiran, Institutes, katekismus, dan tulisan-tulisan Calvin lainnya, namun penulis mengamati bahwa relasi Sabat dan kesucian hidup menurut Calvin, secara tersirat telah dimulai sejak tafsiran kitab kejadian dalam Perjanjian Lama sampai tafsiran kitab Ibrani dalam Perjanjian Baru. Hal ini bukan hal yang mengherankan, karena tema kesucian memang sering dibicarakan Calvin dalam berbagai konteks pembahasan. Suatu kesucian yang bukan dari pemahaman yang self-centered, melainkan dari pengenalan dan penghormatan akan Allah, yang God-centered. Penulis membagi ke dalam dua tinjauan untuk membuktikan relasi dalam pemikiran Calvin ini. Pertama, relasi perayaan Sabat dengan kesucian hidup Kristen secara personal dan kedua secara berjemaat/ gereja.

Verbum Christi 2.2

  • Volume 2, No. 2
  • PERAYAAN SABAT MENURUT JOHN CALVIN

    ABSTRAK: Ada banyak interpretasi tentang perayaan Sabat, oleh karena itu agar dapat menangkap keseriusan atas perintah untuk menjalankan Sabat ini diperlukan suatu konsep pemahaman yang komprehensif. John Calvin yang dikenal sebagai seorang pemikir yang sistematis dan teolog yang seksama sekaligus praktis patut mendapat perhatian kita. Demi memahami konsep Sabatnya, Calvin menuliskan tema Sabat dalam berbagai tulisannya, baik dalam tafsiran, Institutes, katekismus, dan khotbah-nya. Dengan demikian, kita akan memperoleh suatu konsep Sabat yang Alkitabiah dari kitab Perjanjian Lama dan Baru, tanpa harus berkompromi dengan konteks zaman saat Calvin hidup.

  • PENERAPAN PANDANGAN JOHN CALVIN TENTANG DISIPLIN GEREJA DALAM KASUS PERZINAHAN DALAM KONTEKS GEREJA MASA KINI

    ABSTRAK: John Calvin sebagai tokoh reformasi terkemuka telah memberikan sumbangsih besar dalam kehidupan bergereja, terlebih menjadi dasar bagi pengajaran dan penerapannya. Ketika gereja masa kini banyak diperhadapkan dengan kasus imoralitas, penerapan disiplin gereja berdasarkan Alkitab dan diinterpretasikan oleh Calvin, telah memberi prinsip yang baik dalam penanganannya. Artikel berikut akan membahas penerapan disiplin gereja berkaitan dengan kasus perzinahan dalam jemaat gereja masa kini. Dalam pembahasannya, penulis mengawali dengan konsep seksualitas menurut pandangan Alkitab serta berbagai bentuk penyimpangannya. Ketika penyimpangan seks terjadi dalam jemaat, disiplin gereja perlu dijalankan. Calvin telah merumuskan disiplin gereja yang dapat mengakomodasi kasus penyimpangan tersebut. Pengalaman tindakan disiplin memberi gambaran bahwa prinsip dan langkah-langkah praktisnya sangat Alkitabiah, dan kontekstual jika diterapkan dalam gereja sejati yang mau kembali kepada Alkitab.

  • HEDONISME KRISTEN JOHN PIPER SEBAGAI SUATU KONTEKSTUALISASI DI DALAM IMAN KRISTEN

    ABSTRAK: Iman Kristen selalu menghadapi tantangan di dalam setiap zaman, tetapi tugas penting yang harus dikerjakan tidak pernah berubah, yaitu bagaimana menaklukkan zaman di dalam kebenaran Tuhan. Setelah bergumul dalam zaman modern, iman Kristen menghadapi tantangan lainnya di dalam zaman postmodern. Pandangan John Piper yang dikenal dengan hedonisme Kristen lahir di tengah-tengah tantangan “self-seeking pleasure” dalam zaman postmodern. Meskipun pandangan ini telah menjadi berkat besar di dalam kekristenan, namun kritik dan kontradiksi juga tidak terhindarkan ditujukan kepada Piper. Perhatian dan keberatan yang muncul berkenaan dengan pertanyaan apakah Piper mengkompromikan kebenaran Firman Tuhan dengan situasi dunia berdosa. Pembahasan akan menunjukkan bahwa pandangan Piper bukan suatu kompromi, melainkankontekstualisasi dan apa yang Piper kerjakan senantiasa berpegang pada kebenaran Kristen dengan relevansi dan kesetiaan kepada berita Injil.

  • MENUJU SUATU ESTETIKA YANG KRISTIANI

    ABSTRAK: Tulisan ini adalah suatu eksplorasi atas visi-visi tentang estetika sebagaimana didapati di dalam teori dan praktik sejak Plato sampai zaman Modern. Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah menggali akar-akar dari identitas Kekristenan dan Ibrani sebagaimana kita dapat temui di dalam teks Alkitab dan praktik pada kedua tradisi. Perbandingan akan dilakukan antara visi Yunani tentang keindahan demi keindahan itu sendiri yang dianggap sakral, yang barangkali merupakan asal-muasal dari gerakan ‘seni demi seni itu sendiri’ (“l’art pour l’art‛) yang muncul di era Modern, dengan alternatif pada visi Ibrani tentang keindahan, yaitu keindahan sebagai respon terhadap kekudusan Allah dan kesenian sebagai sesuatu yang merujuk pada hal yang melampaui dirinya sendiri.

Verbum Christi 2.1

  • Volume 2, No. 1
  • GLORIA DEI AS A KEY TO UNDERSTAND 
CALVIN’S DOCTRINE OF PREDESTINATION


    ABSTRAK: Artikel ini menganalisa doktrin predestinasi dalam pemikiran Calvin dan menawarkan sebuah alternatif untuk mengerti doktrin ini ditinjau dari perspektif kemuliaan Allah. Melalui argumentasi-argumentasi historis dan sistematis, penulis menawarkan sebuah pemikiran kunci untuk mengerti kompleksitas dari doktrin predestinasi Calvin. Ide kemuliaan Allah dapat menjadi sebuah kunci untuk mengerti doktrin ini.

  • THE APOSTOLIC DECREE AND OUR MEAT MENU: READING ACTS 15 IN REDEMPTIVE-HISTORICAL PERSPECTIVE

    ABSTRAK: Keputusan sidang Yerusalem mengenai umat percaya kafir – bahwa mereka harus menjauhan diri, diantaranya, dari daging dengan darah yang masih ada dan dari percabulan – secara resmi dituliskan supaya dijalankan oleh komunitas kristen mula-mula (Kis. 15). Hal ini bergema dalam surat-surat Paulus, karena instruksi rasuli ini ditujukan kepada umat percaya non-Yahudi seperti kita. Preskripsi dari Yerusalem bukanlah hal yang merupakan insidentil, tapi berakar pada prinsip-prinsip dasar akan hidup yang dicipta, dan hal ini secara umum ditaati pada abad-abad permulaan. Tetapi, kebanyakan orang Kristen sekarang tidak merasa terbelenggu dengan aturan alkitab ini dan tidak memiliki permasalahan dengan memakan puding darah ataupun daging steak yang mentah. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan, mengapa, seiring waktu, Dekrit Rasuli ini dianggap menjadi tak berlaku. Di dalam gereja dengan jumlah orang Kristen non Yahudi yang makin bertambah, keharusan dekrit ini secara sejarah penebusan telah berakhir keberadaannya.

  • KREDIBILITAS & KONTRIBUSI INJIL KEEMPAT TERHADAP STUDI YESUS SEJARAH

    ABSTRAK: Para ahli Yesus Sejarah secara umum hanya menerima injil Sinoptik dan menolak kredibilitas Injil Keempat menjadi sumber mereka. Hal ini mengakibatkan munculnya presentasi yang cacat akan gambaran Yesus Sejarah dalam setiap fase perkembangannya. Pencarian ketiga dari Yesus Sejarah, misalnya seperti yang dikerjakan oleh E.P.Sanders, berusaha mengoreksi gambaran yang cacat ini dari pencarian-pencarian sebelumnya. Tapi upayanya kembali gagal melampaui palang representasi Yesus Sejarah yang sejati disebabkan pandangannya yang skeptis terhadap injil keempat. Di artikel ini, bukti-bukti ekstrinsik dan intrinsik dipaparkan untuk menunjukkan kredibilitas akan Injil Keempat. Lalu, setelah menunjukkan kekurangan dari pencarian-pencarian yang sebelumnya, beberapa catatan akan kontribusi positif diberikan melalui Injil keempat sehingga Yesus Sejarah yang sejati dapat dimunculkan.

  • PANDANGAN ESKATOLOGI INJIL MATIUS 27:51-54

    ABSTRAK: Matius 27:51-54 memberitahukan kepada kita beberapa peristiwa luar biasa yang terjadi ketika Yesus mati di atas kayu salib. Beberapa teolog mengatakan bahwa kita tidak dapat melihat peristiwa-peristiwa yang dicatat di dalam perikop tersebut benar-benar terjadi secara literal melainkan hanya sebagai konsep teologis yang dinyatakan di dalam peristiwa. Mereka mengatakan karena Matius sebenarnya telah dipengaruhi oleh budaya Helenistik yang kemudian menggunakan perangkat puisi Helenistik untuk menekankan bahwa Raja yang besar telah mati. Tetapi tentu saja pengertian semacam ini akan sangat menjadi ancaman bagi iman Kristen, khususnya mengenai kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus sebagai peristiwa yang terjadi secara literal. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengerti bagian tersebut sebagai peristiwa yang terjadi secara literal. Kemudian kita akan melihat signifikansi kuasa kematian Tuhan Yesus Kristus yang bahkan memicu kebangkitan dari para orang kudus dan disisi lain bagian ini menjadi fitur baru yang dibawa oleh Matius ke dalam tradisi Sinoptik.

  • PENDASARAN TEOLOGIS BAGI PEMIKIRAN POLITIK JOHN CALVIN

    ABSTRAK: Sebagai seorang teolog, John Calvin mendasarkan pemikiran politiknya atas doktrin-doktrin teologis. Dalam kajian terhadap pemikiran politiknya, paling tidak dalam bagian pemerintahan aristokratis-demokratis, terlihat Calvin mengasumsikan sejumlah doktrin penting yakni doktrin Alkitab, doktrin kedaulatan Allah dan doktrin dosa. Ketiga doktrin ini memberi pengaruh paling tidak, bagi eksistensi pemerintahan, pentingnya hukum, dan kepemimpinan plural.

  • TEOLOGI PUBLIK STANLEY HAUERWAS DAN PENERAPANNYA DALAM KONTEKS DI INDONESIA

    ABSTRAK: Orang Kristen tidak dapat melarikan diri dari masyarakat sehingga teologi publik dibutuhkan oleh orang Kristen untuk berkontribusi kepada masyarakat. Pada satu aspek, teologi publik harus relevan dengan masyarakat tetapi di aspek yang lain harus dapat menunjukkan identitasnya. Terdapat banyak jenis teologi publik dan salah satunya diusulkan oleh Stanley Hauerwas. Hauerwas mengajukan sebuah model teologi publik yang berdasarkan komunitas dan narasi sehingga kontribusi orang Kristen tidak kehilangan identitasnya demi mendapatkan relevansi publik. Teologi publik Hauerwas menekankan peran gereja dalam teologi pubik. Sekalipun model ini didasarkan pada konteks Amerika Serikat tetapi dapat memberikan masukan yang bermanfaat dalam berteologi publik di Indonesia.

Verbum Christi 1.2

  • Volume 1, No. 2
  • SCRIPTURE – MERE TEXT?

    ABSTRAK: Dalam artikel ini, penulis menanggapi secara kritis ungkapan Benjamin Jowett yang beranggapan bahwa Alkitab adalah buku biasa dan harus dibaca sebagai buku biasa. Dengan argumentasi teologi historis dan dialog dengan ketegangan imanilmu, penulis mempertahankan bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan Roh Kudus bersaksi di dalamnya. Karena itu, Alkitab tidak dapat sepenuhnya dibaca seperti buku biasa.

  • TINJAUAN TERHADAP DOKTRIN KOVENAN KERJA DALAM TEOLOGI REFORMED

    ABSTRAK: Dalam artikel ini, pertama-tama penulis membahas asal mula doktrin kovenan kerja, yang menurut hemat penulis, terutama dimulai pada zaman reformasi. Di dalamnya, penulis menyimpulkan bahwa doktrin ini dipelopori oleh Bullinger dan Calvin. Akan tetapi, dalam perkembangannya di kemudian hari, muncul perbedaan pandangan di antara para teolog Reformed mengenai apakah doktrin kovenan kerja diajarkan dalam Kitab Suci atau tidak. Karena itu, dalam bagian berikutnya, penulis mencoba menganalisis argumen-argumen yang dikemukakan penentang doktrin kovenan kerja. Dari analisis ini, penulis menyimpulkan bahwa argumen-argumen yang mereka kemukakan tidak selaras dengan ajaran Alkitab. Kesimpulan ini membawa kita untuk melihat lebih lanjut implikasi doktrinal yang ada ketika kita menerima doktrin kovenan kerja. Dalam artikel ini, penulis membahas dua implikasi doktrinal, yaitu doktrin transmisi dosa dan ketidakberdosaan Kristus.

  • THE RELATIONSHIP BETWEEN FAITH AND REASON IN JOHANNINE THEOLOGY: A BIBLICAL AFFIRMATION OF PRESUPPOSITIONAL APOLOGETICS

    ABSTRAK: Melalui kajian dari perspektif biblikal-teologis, yakni melalui penelahaan terhadap teologi Yohanes, penulis menyelesaikan kontroversi klasik antara iman dan akal. Pertanyaan utamanya adalah apakah proposisi-proposisi wahyu bersifat dapat diketahui hanya karena Allah telah membicarakannya atau bahwa manusia juga boleh menemukan proposisi-proposisi wahyu itu itu melalui pencarian filosofis. Melalui kajian terhadap teologi Yohanes, penulis mengafirmasikan signifikansi apologetika presuposisional.

  • THE RELATIONSHIP BETWEEN CHRISTIANITY AND SCIENCE: A BRIEF HISTORICAL STUDY ON DARWINISM AND THE DUTCH NEO-CALVINIST THEOLOGIANS

    ABSTRAK: Kesimpulan filsuf Ilse N. Bulhof bahwa Darwinisme diterima dengan mudah di Belanda dengan perlawanan datang hanya dari kalangan agama perlu diperjelas lebih lanjut. Nyatanya, perlawanan terhadap Darwinisme juga datang dari golongan akademik dan tidak semua kalangan agama menolak Darwinisme. Tanpa keberatan kaum liberal modernis menerima Darwinisme. Dua tokoh penting dari gerakan neo-Calvinisme di Belanda, Abraham Kuyper dan Herman Bavinck, juga menerima evolusi sebagai suatu fakta walaupun mereka menolak paham Darwinisme. Kesimpulan Bulhof di atas tidak seharunya dimengerti sebagai pertentangan antara iman dan ilmu. Perlawanan yang sesungguhnya bukan perlawanan antara iman dan ilmu, tapi antara dua macam worldviews yang saling bertolak belakang. Inilah yang menyebabkan tidak semua ilmuwan juga menerima Darwinisme. Menarik untuk diamati bahwa generasi kedua dari gerakan neo-Calvinisme di Belanda (misalnya, Valentine Hepp) menolak semua bentuk evolusi. Beberapa alasan 302 THE RELATIONSHIP BETWEEN CHRISTIANITY AND SCIENCE yang mencoba untuk menjelaskan diskontinuitas antara kedua generasi neo-Calvinisme ini juga akan diberikan di dalam tulisan ini.

  • PENGAMPUNAN DAN PERJANJIAN DALAM PEMIKIRAN HANNAH ARENDT

    ABSTRAK: Menurut Hannah Arendt, kapasitas manusia untuk mengampuni, untuk berjanji dan menepati sebuah janji, dapat menjadi solusi yang lebih baik bagi predicament bawaan dari tindakan daripada kontrol. Solusi di dalam tradisi filsafat politik Barat sejak Plato untuk ketiga predicament dari tindakan adalah melalui ‘substitusi dari tindakan dengan karya’. Substitusi yang berbahaya ini dapat ditelusuri di dalam penggunaan metafora-metafora yang diambil dari proses fabrikasi, di dalam arena politik. Hal ini akan membawa kepada alienasi, penindasan, dominasi, kekerasan di dalam perjalanan sejarah dunia barat. Pluralitas dan kesetaraan di dalam masyarakat memang mengakibatkan lenyapnya kepastian dan kontrol atas masa depan, tetapi Arendt percaya bahwa kekuatan yang inheren di dalam kapasitas manusia untuk membuat janji-janji dan untuk mengampuni merupakan suatu pilihan yang lebih baik daripada substitusi ‘tindakan dengan karya.’ Artikel ini menelusuri akar-akar Yahudi-Kristen dari pemikiran Arendt, mengevaluasi penggunaannya akan sumber-sumber dan mendayakan pemahamannya untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik akan situasi politik di Indonesia.

  • ALLAH DAN SENI MENURUT PEMIKIRAN GEORG WILHELM FRIEDRICH HEGEL DAN JONATHAN EDWARDS

    ABSTRAK: Kenikmatan akan keindahan artistik jarang dianggap kudus dan sakral dalam kebudayaan sekuler kita. Keilahian dan kesalehan dianggap sebatas iman personal; sementara seni sebagai suatu bahasa universal akan kenikmatan manusia. Hegel mencoba untuk menampilkan keilahian, ‚Allah,‛ dan agama dengan cara yang dapat diterima oleh orang-orang sekular sejamannya dan masyarakat deistik-romantik dengan mensekularkan tiga hal ini. Sekalipun terdapat sisa-sisa dari gambaran klasik kekristenan akan Allah sebagai pencipta dan penopang segala sesuatu, tetapi gambaran sekuler akan Allah ini memiliki banyak permasalahan yang tak dapat dibereskan di banyak tempat, dalam konsep Hegel akan keilahian dan “Allah yang sekuler.” Itu sebabnya upayanya untuk membawa “spiritualitas” ke dalam diskusi akan seni dan keindahan harus dikritik dari perspektif dari Teologi Jonathan Edwards mengenai kemuliaan Allah. Dari perspektif kedua raksasa ini, perenungan akan seni, keindahan dan spiritualitas di dalam tren kekristenan yang populer di jaman kita perlu ditelaah.

Verbum Christi 1.1

  • Volume 1, No. 1
  • MENGAPA TEOLOGI REFORMED?

    Artikel ini mengkaji beberapa pertanyaan penting sebagai tantangan dan evaluasi terhadap gerakan Reformed di dunia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijawab secara komprehesif. Kekristenan adalah kebenaran maka seseorang memeluk kekristenan bukan sebaliknya. Kekristenan yang benar itu ternyata diwakili oleh teologi Reformed. Hal ini disebabkan, teologi Reformed mewakili dan setia kepada firman Tuhan. Dengan demikian, gerakan sejati dalam sejarah adalah gerakan Reformed. Perjuangan menegakkan teologi Reformed melalui gerakan Reformed adalah suatu peperangan atau pertempuran yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Gerakan Reformed juga harus menjadi gerakan yang berapi-api dan menyatukan antara kualitas yang tinggi dan kuantitas yang banyak.

  • PUBLIC RELIGION” AND THE PANCASILA BASED STATE OF INDONESIA: A THEOLOGICAL-ETHICAL ANALYSIS

    Kehadiran agama dalam ruang publik merupakan suatu keniscayaan. Hal itu terkait misi agama-agama untuk menghadirkan perdamaian sebagai kontribusi positifnya. Walau pada dirinya agama itu juga mengandugn dua potensi paradoks, yaitu menumbuhkan kekerasan disatu pihak, dan rekonsiliasi dipihak lain, namun revitalisasi agama publik bisa mengikis peranan negatif agama untuk kemudian memaksimalkan peran positif agama-agama itu.

    Carut marutnya wajah agama publik di Indonesia jelas merupakan suatu anomali, khususnya akibat kekerasan negara terhadap agama. Keputusan founding fathers bahwa Indonesia bukan negara sekular seharusnya membebaskan agama dari belenggu untuk hanya ada pada ruang privatnya, sedang penetapan Indonesia bukan negara agama, mensyaratkan tempat terhormat bagi agama. Karena itu pemerintah tidak hanya berkewajiban menjamin kebebasan beragama, tapi juga mendorong pertumbuhannya, dengan demikian jelaslah hegemoni agama adalah suatu absurditas, dan tidak memiliki akarnya di negeri ini. Sebaliknya agama publik harus dikembangkan untuk menjadi tempat dimana peran publik agama-agama diakui dan dikembangkan.

  • THEOLOGICAL ANTHROPOLOGY IN THE THOUGHT OF JONATHAN EDWARDS

    Jonathan Edwards adalah salah seorang tokoh penting yang mewakili Puritanisme di Amerika. Artikel ini mengobservasi pemikiran anthropologis Edwards. Beberapa hal yang akan dibahas adalah titik berangkat yang digunakan oleh Edwards dalam berteologi, konsep manusia yang diciptakan dalam gambar-rupa Allah, bagian-bagian dari jiwa manusia, tempat pengetahuan dalam kehidupan Kristen dan relasinya dengan afeksi agamawi, relasi antara konsep imago dei dan bagian-bagian jiwa, dan akhirnya pemikiran tentang kebahagiaan dalam hidup manusia dalam kaitannya dengan visi akan kemuliaan Allah. Studi ini menunjukkan bahwa Edwards telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam keaneka-ragaman pemikiran anthropologis dalam tradisi teologi reformatoris.

  • REFORMASI DAN MAKNA KEHIDUPAN SEKULER

  • QUANTUM INDETERMINACY AND THE SOVEREIGNTY OF GOD

    Pada akhir abad ke-18, paradigma fisika Newtonian dinilai mendukung wawasan materialisme dan determinisme. Konsep akan Allah yang deistik dinilai sebagai suatu alternative pemikiran rasional dari konsep akan Allah yang tradisional. Akan tetapi, keyakinan akan paradigma fisika Newtonian, beserta implikasi filosofis dan theologisnya, telah tersisihkan dengan munculnya paradigma baru fisika kuantum pada permulaan abad ke-20. Ketidakpastian Kuantum dilihat oleh sebagian pihak sebagai sekutu mereka untuk membawa kembali hal-hal yang bersifat supra-natural dan immaterial ke dunia ini. Akan tetapi, paradigma fisika yang baru ini sekaligus datang dengan tantangan-tantangannya sendiri; sebagian pihak telah menemukan sokongan ilmiah di dalam paradigma fisika yang baru ini terhadap wawasan Molinisme dan Theisme yang terbuka. Kedua wawasan akan Allah ini memberikan batasan akan kedaulatan Allah sehingga menyepelekan gambaran Allah yang alkitabiah. Komitmen kita kepada kemutlakan kedaulatan Allah akan setiap detil dari dunia yang Ia ciptakan dan kepada perbedaan antara Pencipta-ciptaan, telah memberikan suatu jalan keluar bagi kita untuk mengerti ketidakpastian kuantum.

  • SIGNIFIKANSI APOLOGETIKA TRINITARIAN CORNELIUS VAN TIL DALAM MENGHADAPI GERAKAN ZAMAN BARU

  • CALVINISME DAN HAK ASASI MANUSIA

    Calvinisme yang dipelopori oleh John Calvin dan diteruskan oleh para teolog dan diekspresikan antara lain dalam pengakuan iman dan katekismus ternyata mempunyai gagasan yang berkorelasi dengan konsepsi hak asasi manusia. Hak asasi manusia yang dimaksud adalah gagasan yang tertuang dalam dokumen-dokumen legal-yuridis, antara lain the Universal Declaration of Human Rights. Dalam tinjauan historis, meskipun Alkitab tidak membicarakan hak asasi secara eksplisit dan positif tetapi sejak zaman Reformasi hingga ke deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang bernuansa Calvinistik, terjadi pertumbuhan artikulasi hak asasi manusia yang semakin eksplisit dan positif. Dalam tinjauan teologis, doktrin-doktrin Calvinisme seperti kedaulatan Allah, gambar Allah, anugerah umum ternyata memiliki implikasi logis terhadap gagasan hak asasi manusia.

Jurnal Verbum Christi